Ashabul Ukhduud (Sahabat Parit)

Pemuda Ashabul Ukhduud

"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasalah orang-orang yang membuat parit berapi dari kayu bakar. Ketika mereka duduk di sekelilingnya, sedang mereka menyaksikan apa yang sedang mereka perbuat pada orang-orang yang beriman. Dan tidak mereka menyiksa orang-orang beriman itu, melainkan karena orang-orang itu beriman kepada Allah yang maha perkasa lagi maha terpuji, yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu." (QS. Al-Buruj: 1-9) 


Pemuda belajar sihir

Dari Shuhaib, Rasullullah Sholallahu 'alaihi wassallam bersabda, "Dahulu ada seorang raja dari golongan umat sebelum kalian, ia mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir tersebut berada dalam usia senja, ia mengatakan kepada raja bahwa ia sudah tua dan ia meminta agar dikirimkan anak yang akan jadi pewaris ilmu sihirnya. Maka ada seorang yang diutus kepadanya. Tukang sihir tersebut lalu mengajarinya. 

Bertemu Rahib

Di tengah perjalanan ingin belajar, anak ini bertemu seorang rahib (pendeta) dan ia pun duduk di majelisnya dan menyimak nasihat si rahib. Ia pun begitu takjub pada nasehat-nasehat yang disampaikan si rahib. Sehingga ia mendatangi tukang sihir untuk belajar dalam keadaan terlambat, tukang sihir pun memukulinya. Anak itu mengadukan perihal tersebut kepada si rahib, lalu berkata "Jika engkau khawatir tukang sihir tersebut memukulmu, maka katakan saja keluargaku menahanku. Jika engkau khawatir keluargamu memarahimu karena terlambat, maka katakanlah bahwa tukang sihir telah menahanku." 


Memilih Rahib atau Tukang Sihir

Pada suatu saat di dalam perjalanan belajar rutinnya tersebut, tibalah ia di suatu tempat dan di situ terdapat seekor binatang besar yang menghalangi jalan orang banyak. Anak itu lalu berkata, "Pada hari ini saya akan mengetahui, penyihir itu ataukah rahib itu yang lebih baik." Ia pun mengambil sebuah batu di tanah kemudian berkata, "Ya Allah, apabila perkara rahib itu lebih dicintai di sisi-Mu dari pada tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang banyak dapat berlalu lalang." Lalu ia melempar batu tepat mengenai binatang tersebut dan terbunuh. Lalu orang-orang bisa melintas. Lalu ia mendatangi si rahib dan mengabarkan hal tersebut. Rahib tersebut pun mengatakan, "Wahai anakku, saat ini engkau lebih mulia dariku. Keadaanmu sudah sampai pada tingkat sesuai apa yang saya lihat. Sesungguhnya engkau akan mendapat cobaan, maka jika itu terjadi, janganlah menyebut namaku." 


Menyembuhkan Penyakit

Anak itu lalu dapat menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit kulit. Ia pun dapat menyembuhkan orang-orang dari berbagai macam penyakit. Berita ini pun sampai di telinga sahabat dekat raja yang telah lama buta. Ia pun mendatangi pemuda tersebut dengan membawa banyak hadiah. Ia berkata kepada pemuda tersebut, "Ini semua akan menjadi milikmu, asal engkau bisa menyembuhkan ku." Pemuda ini pun berkata, "Aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun. Yang mampu menyembuhkan hanyalah Allah. Jika engkau mau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepadanya supaya engkau bisa disembuhkan." Ia pun beriman kepada Allah, lantas Allah menyembuhkannya, maka ia dapat melihat seperti orang-orang. 


Ujian Keimanan

Sahabat raja tadi kemudian mendatangi raja dan ia duduk seperti biasanya. Raja pun bertanya padanya, "Siapa yang menyembuhkan penglihatan mu?" Ia pun menjawab, "Rabbku." Raja pun kaget, "Apa engkau punya Rabb (Tuhan) selain aku?" Sahabatnya pun berkata, "Rabbku dan Rabbmu itu sama yaitu Allah." Raja tersebut pun menindaknya, ia terus menyiksanya sampai ditunjukkan pemuda tadi. Ketika pemuda itu datang, raja lalu berkata kepadanya, "Wahai anakku, telah sampai padaku berita mengenai sihirmu yang bisa menyembuhkan orang buta dan berpenyakit kulit, serta engkau dapat melakukan ini dan itu." Pemuda tersebut pun menjawab, " Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan siapapun. Yang menyembuhkan adalah Allah." Mendengar hal itu, raja lalu menindaknya, ia terus menyiksanya, sampai ditunjukkan pada rahib yang menjadi gurunya. Ketika rahib tersebut didatangkan, raja pun memerintahkan kepadanya, "Kembalilah pada ajaranmu!" Rahib itu pun enggan. Lantas didatangkan lah gergaji dan diletakkan di tengah kepalanya. Lalu terbelah dualah kepala si rahib dan terjatuhlah belahan kepala tersebut. Setelah itu, sahabat dekat raja didatangkan pula, ia pun diperintahkan seperti si rahib, "Kembalilah pada ajaranmu!" Ia pun enggan. Lantas terjadi hal sama, didatangkanlah gergaji dan diletakkan di tengah kepalanya. Lalu dibelahlah kepalanya dan terjatuhlah belahan kepala tersebut. 

Membunuh pemuda

Kemudian giliran pemuda tersebut yang didatangkan. Ia diperintahkan hal yang sama, "Kembali pada ajaranmu!" Ia pun enggan. Kemudian pemuda tersebut diserahkan kepada pasukan raja. Raja berkata, "Pergilah kalian bersama pemuda ini ke gunung ini dan itu. Lalu dakilah gunung tersebut bersamanya. Jika kalian telah sampai di puncaknya, jika ia mau kembali pada ajarannya, maka bebaskan dia. Jika tidak, lemparkanlah ia dari puncak gunung tersebut." Lantas pasukan raja tersebut pergi bersama pemuda itu lalu mendaki gunung. Lalu pemuda ini berdoa, "Ya Allah, cukupilah aku dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu." Gunung pun lantas berguncang dan semua pasukan raja akhirnya jatuh. Lantas pemuda itu kembali berjalan menuju raja. Ketika sampai, raja berkata pada pemuda, "Apa yang dilakukan teman-temanmu tadi?" Pemuda tersebut menjawab, "Allah ta'ala telah mencukupiku dari tindakan mereka." 

Lalu pemuda ini dibawa lagi bersama pasukan raja. Raja memerintahkan pada pasukannya, "Pergilah kalian bersama pemuda ini dengan sebuah sampan menuju tengah lautan. Jika ia mau kembali pada ajarannya, maka bebaskan dia. Jika tidak, maka tenggelamkanlah dia." Mereka pun lantas pergi bersama pemuda ini. Lalu pemuda ini pun berdoa, "Ya Allah cukupilah aku dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu." Tiba-tiba sampan tersebut terbalik, lalu pasukan raja tenggelam. Pemuda tersebut kembali berjalan mendatangi raja. Ketika menemui raja, ia pun berkata pada pemuda, "Apa yang dilakukan teman-temanmu tadi?" Pemuda tersebut menjawab, "Allah ta'ala telah mencukupiku dari tindakan mereka." 

Parit berapi

Ia pun berkata pada raja, "Engkau tidak bisa membunuhku sampai engkau memenuhi syarat ku." Raja pun bertanya, "Apa syaratnya?" Pemuda tersebut berkata, "Kumpulkanlah rakyatmu di suatu bukit. Lalu saliblah aku di atas sebuah pelepah. Kemudian ambillah anak panah dari tempat panahku, lalu ucapkanlah, Dengan menyebut nama Allah Tuhan dari pemuda ini, lalu panahlah aku. Jika engkau melakukan yang seperti itu, engkau pasti akan membunuhku." Lantas rakyat pun dikumpulkan di suatu bukit. Pemuda tersebut pun disalib di pelepah, lalu raja tersebut mengambil anak panah dari tempat panahnya kemudian meletakkannya di busur. Setelah itu, ia mengucapkan, "Dengan menyebut nama Allah, Tuhan dari pemuda ini." Lalu dilepaslah dan anak panah tersebut mengenai pelipisnya. Lalu pemuda tersebut memegang pelipisnya, tempat anak panah tersebut menancap, lalu ia pun mati. Rakyat yang berkumpul tersebut lalu berkata, "Kami beriman pada Tuhan pemuda tersebut. Kami beriman pada Tuhan pemuda tersebut." 

Raja datang, lantas ada yang berkata, "Apa yang selama ini engkau khawatirkan. Sepertinya yang engkau khawatirkan selama ini benar-benar telah terjadi. Manusia saat ini telah beriman pada Tuhan pemuda tersebut." Lalu raja tadi memerintahkan membuat parit mengeliling, lalu dinyalakan api di dalamnya. Raja tersebut pun berkata,"Siapa yang tidak mau kembali pada ajarannya, maka lemparkanlah ia ke dalamnya." Mereka pun melakukannya, sampai ada seorang wanita bersama bayinya. Wanita ini ragu-ragu ketika akan melompat ke parit penuh api. Anaknya yang masih dalam gendongan pun lantas berkata, "Wahai Ibu, bersabarlah karena engkau di atas kebenaran." (HR. Muslim no. 3005)

Comments

Popular posts from this blog

Pembunuh yang Menepati Janji

Doa Ibu Juraij